Tampilkan postingan dengan label Dongeng Selanjutnya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dongeng Selanjutnya. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 November 2014

Merenung



Kembali  lagi ingin menulis beberapa hal mengenai kehidupan ini.  walau hanya sekedar berbagi dan bercerita, tapi apa salahnya jika kita bisa kembali lagi mengenal diri kita sendiri. hidup ini memang bukan sekedar tertulis di atas kertas. Akan tetapi kehidupan merupakan proses “kita” yang harus dijalani. Betul ?? entah berapa sulit hal tersebut untuk dijalani kita harus bisa melaluinya. Karena semua itu adalah anugerah. Apa yang kita lakukan sekarang entah itu baik atau buruk, akan berdampak pada apa yang ada di masa mendatang. Keputusan kecil yang kita pilih juga mempunyai pengaruh yang besar bagi kehidupan di masa mendatang. Banyak orang yang mengatakan bahwasanya hidup adalah pilihan. Yaitu kita hidup dengan memilih “jalan”mana yang akan kita lalui kelak. Dan kita akan berpegang teguh dengan jalan kita tersebut. Hidup sendiri bagaikan perjalan menyusuri sungai kehidupan dari mata air yang ada di pegunungan. Kita menyusurinya dengan segala keadaan kita dan kehidupan itu sendiri. Terkadang kita harus tersandung oleh batu kecil, terkadang kita juga tersandung oleh batu besar yang menghalangi jalan kita. akan tetapi kita pasti bisa melaluinya dan pada akhirnya kita sampai dan bertemu dengan samudera yang luas. Kehidupan setelah kehidupan dunia. Pilihan-pilihan yang ada didepan mata kita serta keputusan yang kita buat darinya, akan selalu mewarnai masa depan kita. ketika kita memilih untuk berbelok, maka kita akan menjumpai jalan lain didepan sana. Segala keputusan adalah milik kita. bisa dikatakan,  hidup adalah memilih, apapun itu pilihannya yang jelas kita harus tetap menatap masa depan dengan berlapang dada. Dan hidup ini adalah “pilihan” dari Tuhan sebagai anugerah yang terpendam maknanya hanya bagi mereka yang mau memikirkannya.
Bimbang dan ragu selalu menyertai hati setiap orang ketika ingin memilih sesuatu. Hal ini merupakan sesuatu yangwajar dirasakan setiap orang. Karena setiap orang pastinya mencemaskan hal yang masih belum tampak dihadapan mereka yaitu masa yang akan datang. Akan sangat mudah jika kita memilih dan hasil dari pilihan kita itu bisa tampak langsung dihadapan kita. lain halnya jika hasilnya harus kita tunggu dengan memakan waktu yang lama. Rasa dilema dan cemas akan menghantui hati. Dari sini lah kita harus bisa lebih bijaksana lagi dan bisa memprediksikan segalanya dengan lebih matang lagi. Kebanyakan mereka yang sudah berumur lebih atau orang tua kita, mereka mampu untuk mengambil keputusan dengan lebih baik dari kita yang masih berumur belasan. Pengalaman-pengalaman yang banyak merupakan bentuk pahit dari kehidupan yang nantinya, buahnya bisa diajarkan kepada generasi penerus.
Apa yang ada pada saat ini, entah itu dianggap baik maupun buruk, hal tersebut merupakan buah hasil dari masa lalu. Keputusan yang ada pada masa lalu akan sampai pada kita. dan pesan yang ada pada masa lalu akan tersampaikan kepada masa depan. Sekali lagi hidup ini adalah proses “kita” sendiri, oleh karena itu kita jalani semua ini dan kita perbaiki dengan baik pula agar “pesan” kita sampai kepada generasi penerus kita kelak.

Rabu, 01 Januari 2014

Doaku untuk Sahabat


Ketika didalam suasana kebersamaan, bahagia itu datang. Menghilangkan segala sepi yang menikam hati dengan perih. Tawa bersama bercanda melenyapkan gelisah dan ragu. Melewati segala hal dengan senyuman manis nan tulus. Waktu yang terus berjalan mengiringi setiap langkah, kita melangkah maju menatap ujung masa depan. Tanpa gelisah tanpa bimbang kita berjuang, bersama semua telah dilalui. Tanpamu aku hanya tangkai, tanpa dia aku hanya daun, tanpa mereka  aku hanyalah tanah tandus. Tetapi dengan kita bersama, kita bagai pohon kehidupan yang terus tumbuh tak terkalahkan oleh terpaan angin dan tak tergoyahkan oleh air berombak. Semua itu hanyalah karena kalian wahai sahabat.
Jalan kita semua masih terbentang panjang dan berliku. Butuh lebih dari sekedar kata “berjuang”. Bukan hanya sekedar bersantai menanti emas keluar dari gunung. Bukan pula menunggu kerang mengeluarkan mutiara-nya. Akan tetapi kita ini-lah “emas” dan “mutiara” itu. Kita kan bersinar menerangi setiap jejak langkah kita. Cita-cita dan angan-angan yang terpendam kan selalu menopang semangat kita tuk menjadi lebih baik. Bukan hanya sekedar berucap saja, tapi keinginan yang tinggi ini selalu mengobarkan semangat untuk menjadi lebih baik dan menjadi yang terbaik apapun yang terjadi. Karena dengan kalian-lah aku mampu berdiri tegak menghadapi setiap rintangan.
Sendiri itu menyakitkan. Sendiri itu kegelapan di dalam hati. Sendiri itu seperti menangis tanpa air mata. Perasaan menyakitkan yang menggerogoti jiwa dengan perlahan. Melumpuhkan angan ini dan memendam cita. Dan bersama sahabat itu bagai bintang yang berpijar menerangi gelap malam. Saling memiijarkan sinarnya tuk menerangi kelamnya suasana malam. Memberi harapan dan semangat bagi yang memandangnya. Menghiasi warna-warni kehidupan ini. Masih ada gunung kesulitan yang belum terdaki dan samudera tak berujung yang masih belum kita arungi.
Dan cahaya kita akan selalu bersinar dengan segala angan dan harapan kita. Tak peduli dimanapun kalian berada, doaku kan selalu menghiasi cita-cita kita. Tuk menjadi yang terbaik dan terbaik dari yang terbaik. Setiap waktu yang terganti, akan mengganti setiap detik umur kita. Mengurangi waktu kita bersama dan waktu kita hidup di dunia ini. akan tetapi, semangat kita tak kan pernah pudar. Hanya dengan berkata dan bermakna inilah aku menyampaikan “kata” itu.
“Biarlah waktu itu terus berjalan, dan langkah kita akan menjadi sejarah abadi. Semoga kita bisa meraih harapan didalam waktu esok kita dengan lebih baik”

Minggu, 01 Desember 2013

Surat untuk Ayah



Maaf jika anakmu ini tidak pandai memuji.
Maaf jika rasa kesal dan jengkel yang bisa kuberi.
Maaf jika perbuatan ini selalu tak sesuai dengan maksud hati ayah yang tinggi.
Maaf jika kebanggaan itu sangat berat untuk dibanggakan lagi.
Maaf jika selalu memaksa ayah untuk memarahi diri berdosa ini.
Maaf jika tidak ada hal baik yang bisa ku cari.
Maaf, karena hanya sebatas ini lah langkah hidup ku berlari.

Hanya sesal yang bisa dirasa, mengingat perilaku tak mengenal dosa diri. tak menghiraukan dan tak memperdulikan akan bayangan pelita sejati. Hanya bisa terdiam disini, merasakan dera tangis deras mengalir bak hilir sungai. Setiap nafas kehidupan yang berhembus ini, adalah rangkaian sempurna dari pendidik hakiki. Sosok pencerah jiwa, yang menemani awal detak jantung menghadapi dunia sepi. Tiada seorang pun yang berdiri disampingku selain ayah, yang melindungi dan memberi rasa percaya diri.  Diri yang rapuh tak berdaya ini terjaga olehnya dan terlindungi. Walau terkadang kita hanya bisa melihat kedepan saja, tapi ayah melihat ke segala sisi. Tak ingin perihnya dunia menerpa jiwa sepi. Kasih sayangnya melekat bagai bayangan; yang selalu ada dan dekat, walau tak dihirau dan tak dirasai. Tapi doa nya untuk kita tak kenal henti. Tak terucap tak bernada, hanya dilantunkan di lubuk hati. Harapannya tinggi, hanya untuk sang buah hati. Sebuah kebanggan hidup yang tak pernah terungkap dengan lisan insani. Semua yang dipunya hanya semata untuk putra puteri yang dimiliki. Sosok ayah yang tak terganti dan tak bisa diganti. Sosok samar bayangannya yang mencerahi dan merajut jalan hidupku yang tak bertali.
Jika sebongkah puing-puing kata ini tersampaikan, maka harapku dan mohon maafku untuk Ayah. Atas dosa dan jejak perih di kenangan Ayah. Akan segala macam tingkah laku tak membahagiakan Ayah. Untaian tangisku tak kan mampu menahan rasa sesal dan kesal diri karena selalu membelakangi jiwa Ayah. walau jauh, yang ku inginkan hanya perjumpaan dengan Ayah. kembali merasakan, mendengar, dan melihat diri Ayah. ku ingat dan ku renungkan yang terlalaikan dari nasehat Ayah. semua hal yang ku punya tiada lain hanya dari petunjuk Ayah. walau tak langsung dan tak selalu langsung, nasehat itu diucap Ayah. tapi perilaku luhur itulah yang tampak dari Ayah.  dengarkanlah rintihan perih seorang anak kecil mu ini, Ayah.
Walau jiwa dan ragaku tak sempurna, doa ku kan selalu aku sempurnakan untuk Ayah. karena Dzat Yang Maha Sempurna pasti akan selalu mendengar hambanya memohon. Walau masa telah berlalu, kan selalu ku jalani jauh kedepan sebagai kebanggaan Ayah. Walau lidah tak bisa terucap, didalam jiwa ini akan selalu terlapisi jiwa Ayah. Walau waktu pergi meninggalkan belakang, tapi akan selalu aku bawa kenangan bersama Ayah.   Walau dunia terbentang luas memisahkan jarak, tak kan pernah bisa melepaskan dari ku kehangatan semangat hidup Ayah. Walau terpaan ombak pedih kehidupan ini menerpa, hanya satu hal yang ingin ku sampaikan untuk Ayah.
Bagaimanapun berlikunya kehidupan ini berjalan, Ayah adalah kebanggaan diri yang tak terganti dan aku akan berdiri diatas segalanya sebagai kebanggaan Ayah.

Minggu, 17 November 2013

Kita Belajar

Alangkah lucunya jika kita melihat anak kecil, adek kecil kita atau bahkan putra putri kita sendiri. Makna hadir mereka membawa senyum untuk dunia. Dengan segala daya dan upaya mereka belajar tentang dunia ini. Dunia yang mereka tempati dan sebagai pintu ke alam abadi. Mereka belajar berkata, sepatah dua patah tanpa putus asa. Belajar berjalan menapaki jejak kaki di tanah bumi ini. Dan berusaha mengungkapkan maksud diri berbicara. Dengan melihat mereka, mungkin diantar kita akan berpikir, bahwa kita dulu juga seperti itu. Usaha maksimal untuk bisa belajar dan belajar untuk tetap hidup di dunia ini. Akan kita sadari, bahwasanya di setiap ayunan nafas kita, kita selalu belajar lebih baik lagi.
Kaki yang rapuh ini pun, akhirnya bisa menegakkan raga. Tangan lemah kita bisa mengukir indah benda disana. Kita belajar dan belajar. Tiada henti kita belajar. Mengurai, merangkai dan mengukir setiap suku kata dalam benak. Hingga kita bisa dikenal dan mengenalkan diri ini.
Karena dengan belajar lah kita mengangkat kedudukan kita diantara para penduduk bumi. Terkadang pula, mereka belajar tanpa disadari, karena hal itu semua adalah jalan proses hidup ini. Kita belajar dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak.mempunyai ilmu, hingga yang mengajarkan ilmu itu. Bukanlah hanya sebatas tuntutan saja kita belajar, akan tetapi sudah menjadi kebutuhan utama manusia untuk berilmu. Karena manusia menjadi mulia dengannya, dan menjadi hina terhinakan tanpanya.
Para pemikir tidak akan pernah merasa puas dan akan selalu haus akan ilmu itu. Semakin kita mengetahui maka akan semakin kita tahu bahwasanya kita ini masih belum cukup tahu. Karena luasnya ilmu ini tiada utara dan barat.
Kita  belajar dan belajar lagi. Disetiap kehidupan ini selalu mengandung pengalaman dan nasehat berharga bagi mereka yang mau merenungkannya. Oleh karena itu, janganlah kita berhenti belajar di titik ini saja. Karena titik selesai hidup kita tiada yang tahu, maka sejauh itu pula lah kita bisa saling berbagi dan belajar belajar bersama dengan makhluk lainnya.

Sabtu, 16 November 2013

Dongeng Selanjutnya 1

Jika aku harus melangkah, maka aku akan melangkah jauh kedepan. Menatap jauh masa yang akan datang dan segala misteri hidup yang misterius. Akan tetapi, sebelum aku melangkah jauh, aku akan meninggalkan sedikit jejak langkah hatiku di tempat ini. Hanya untuk berharap agar sejarahku kan tersisa. Aku tahu nafas ini tak kan abadi, detak ini pun akan berhenti berdetak, langkah kecilku akan terdiam terpaku. Karena semua yang dipunya ini tidak ada yang abadi. Dan setiap jejak tapak langkah ini akan mempunyai batas hidup. Entah sampai kapan, tiada insan yang tahu. Hanya bisa berharap, berdoa, dan berbuat untuk saat ini. Untuk yang terbaik dan terindah dari apa yang bisa kita lakukan saat ini. Karena apa yang ada sekarang, akan menuntun kedepan dan mengukir rangkaian mata sejarah manusia.
Untuk semua yang pernah merasakan manisnya kebersamaan, nikmat dari waktu yang kita lalui, dan segala hal indah lainnya. Luangkanlah diri ini untuk kembali merasakannya. Rasa yang ada duanya. Rasa yang hanya kita rasa pada saat itu saja. Karena waktu tak akan menoleh ke belakang. Karena kita masih bisa berada pada waktu ini. Serasa harus menghitung setiap detik kehidupan ini. Akan tetapi, hanya hal itulah yang bisa kita lakukan, dengan segala upaya yang bisa kita lakukan pula.
Saat terbangun ini, aku akan berlanjut tuk menatap nun tinggi ke angkasa. Terbang bersama cita yang selalu ku dekap hangat. Melambaikan sayap kebebasan ini, keluar dari belenggu asa. Dan ku tinggalkan bulu serpihan sayap kenangan. Untuk mereka para pengganti kehidupan yang fana ini.
Aku berdoa untuk esok nan cemerlang, walau harus merintangi kabut badai. Dan aku berharap semoga jalan kecil yang aku tempuh ini, walau hanya sekedar harap, kan terkenang di dalam setiap jiwa yang hidup menjalani waktu ini. Suara ini tak bisa menjulang ke langit, tapi kan ku suarakan ke dalam jiwa raga insan.

Senin, 23 September 2013

Waktu adalah waktu

Semua yang terjadi dan akan terjadi adalah merupakan hal-hal yang tidak dapat kita duga. Terkadang hal itu terjadi begitu saja tanpa ada rencana dan kemungkinan yang kita pikirkan. Masa depan yang misterius dan masa lalu tidak akan pernah kembali. Semua itu adalah permainan waktu. Waktu yang akan terus berjalan, meninggalkan belakang dan terus menghadap ke depan.
Waktu adalah waktu. Sebuah sebutan yang tidak asing di telinga kita semua. Sering diucapkan tetapi jarang dimaknai dengan tinggi. Setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan bahkan sampai abad, semua itu merupakan pembagian dan pengelompokan waktu yang misterius tadi. Kita hanya bisa mengiranya saja. Akan tetapi kita sendiri juga tidak tahu kapan awal mula waktu itu bermula dan kapan waktu itu akan berakhir. Sungguh benar-benar misteri besar bagi manusia. Walaupun sering kali kita melupakan dan tidak memperdulikannya. Mungkin kita akan menjadi peduli dengan waktu jika kita ada sesuatu yang menarik perhatian kita. Ketika kita duduk di bangku pendidikan, kita diharuskan untuk masuk tepat waktu dengan tujuan untuk melatih kedisiplinan kita sendiri. Kita harus masuk pagi-pagi tepat waktu. Jika terlambat, maka akan asa konsekuensinya yang akan kita terima. Mungkin dihukum atau dinasehati saja. Didalam keadaan seperti itulah kita akan benar-benar bisa menghargai waktu. Padahal tidak hanya pada keadaan-keadaan seperti itu saja, seluruh waktu yang kita punya merupakan kekayaan pribadi setiap orang. Dan kita juga tidak tahu berapa banyak harta kita tersebut. Memang disinilah keterbatasan kita sebagai manusia. Apa-apa yang bisa diperbuat dan dilakukan manusia memang memiliki keterbatasannya masing-masing. Indera mereka hanya bisa digunakan dengan segala keterbatasannya. Dan pengetahuan kita tentang waktu juga sangatlah terbatas. Kita melalui dan menjalaninya setiap hari. Waktu akan terus berjalan terus meninggalkan belakang dan akan terus melaju ke depan tanpa memperdulikan mereka yang tidak memperhatikannya. hargailah segala waktu yang kita punya saat ini. Kebersamaan kita dengan keluarga, teman, kerabat dan lingkungan-lingkungan tempat tinggal kita. Satu detik yang akan kita lalui saat ini akan menjadi sejarah hidup kita nantinya. Dan sekarang adalah bagaimana usaha kita untuk bisa menatap masa depan agar kita bisa menbuat sejarah hidup kita yang terbaik dan yang terindah.

Sabtu, 06 Juli 2013

Jalanku, Hidupku



Detik demi detik berlalu, menit demi menit melaju, siang dan malam menemani, hari-hari yang cerah untuk segala jiwa yang terdiam. Melewati masa yang indah ini, bersama  dengan mereka yang kita cintai dan sayangi. Merasakan dan menghargai setiap saat dan kenangan yang akan dilalui. Pahit dan manis tak terhiraukan, hanya ingin merasakan kehidupan ini berjalan dengan indah. Terkadang kita benar dan terkadang pula kita salah, hanya kebijaksanaanlah yang bisa membimbing. Kebijaksaan sejati yang selalu bisa menyinari setiap segi kehidupan kita. ku awali pagi ini dengan keinginan untuk merasakan segala hal itu. Tidak ingin kulewatkan sedetik pun dengan sia-sia. Bersama dengan mereka yang mewarnai hidupku, mereka yanng mau menemaniku disisi diri yang gelap ini. Senyum dan canda mereka merupakan cercahan cahaya hidup ini. Tanpanya, aku hanyalah bunga tanpa air, layu tak terhiraukan.  Suara penuh makna, panggilan kasih sayang dari orang-orang yang benar-benar menyayangi kita.
Apalah arti dari hidup ini jika kita tidak bisa menghargai kehidupan itu sendiri. Hanya bisa merenung melamun tak menentu. Kita harus menjalaninya dengan penuh rasa. Semua yang kita lalui akan menjadi bagian dari kenangan dan sejarah orang lain. Walau terasa pahit, walau terasa perih, segalanya pasti akan berjalan dengan indah. Jalan yang kita lalui tidak selamanya lurus tak berliku. Dengan segala macam “tikungan” itu lah yang menjadikan hidup kita indah.
Apalah daya jika hati berkehendak, tapi “jalan” tidak sesuai. Bukan kesal yang kita ungkapkan, tapi sabar dan tawakal harus selalu kita dahulukan. Kita boleh berhenti sejenak, tetapi langkah harus tetap kita langkahkan menuju kedepan. Perjalanan hidup kita masih jauh terbentang didepan. Gunung penghalang bukan  pemisah jalan kita melainkan sebuah tantangan yang harus kita lalui dengan mendakinya. Semakin sulit hal itu, maka semakin kita bisa lebih menghargai segala macam kesulitan hidup kita lainnya.
Bagi mereka yang putus asa, yang terasingkan, yang terpandang hanya sebelah mata, bukan berarti kita ini tidak dibutuhkan. Bukan berarti pula kita ini tidak penting. Segala ha yang ada di dunia ini mempunyai hubungan antara satu dengan yang lainnya. Dia Yang Maha Menciptakan tidak menciptakan sesuatu pun dengan sia-sia. Masing-masing memiliki hikmah tersendiri. Terkadang memang diri ini merasa bahwa dunia ini seakan-akan membuang kita, mencemooh kita, akan tetapi semua itu hanyalah sebuah rintangan. Jadikanlah dirimu lebih berarti, karena sebenarnya dirimu memang sangat berarti. Dan Dia akan selalu melihat dan mengawasi setiap hembusan nafas hamba-hambanya.
Dan jalanku ini akan selalu ku lalui dengan tulus. Walau perih menerpa, walau sedih menghantam, walau gundah menyambar. Semua itu meruakanbagian dari kehidupan. Dengan semua itu hidup akan lebih berwarna lagi. Indah bagai pelangi, walau terkadang harus ada air mata yang turun membasahi, dan setelahnya akan nampak “pelangi” hiidup ini. Jadi nikmatilah setiap jerih payah langkah kita.

Rabu, 01 Mei 2013

Surat Cinta



Satu hari itu sudah cukup lama bagiku jika ku bisa selalu disampingmu, wahai kekasihku. Setiap detik yang kita lalui barsama, akan menggoreskan tinta emas didalam sejarah hidup kita. Yang takkan pernah terhapus kenangan cantik selamanya. Tiada hal yang lebih menyenangkan, kecuali bisa melakukan segala hal disamping orang yang kita cintai. Entah itu sedikit atau banyak, kita pasti akan merasakannya. Cintailah orang yang kau cintai dengan cinta sejatimu. Berikan kepadanya cintamu, maka kau pasti akan mendapatkan cinta iitu kembali. Cinta adalah memberi bukan meminta. Berilah yang banyak niscaya kau akan menerima cinta itu kembali.
Wahai kekasihku, betapa aku menginginkan saat-saat itu kembali lagi. Saat kita lalui masa berdua, tertawa bahagia bersama. Kenangan yang akan selalu terkenang selamanya di lubuk jiwa terdalam ini selamanya. Air hujan yang jatuh membasahi kening ini ketika aku menatap langit, tak pernah ku pedulikan. Yang aku inginkan hanyalah menatap langit yang menjadi saksi kita ini. Ditersipu menatap dan menunggu seseorang yang sangat dirindu. Rasa perasaan sendiri yang kurasakan ini, begitu perih tak terkira. Bak diselimuti pekat gelap tak ada sepercik cahaya sedikitpun. Hanya bisa melebur air mata dengan air hujan ini. Tak kuasa hati ini untuk menghadirkan wajah ini kembali ketika kau menatapku.
Kita tahu samudera terbentang diantara kita, berlapiskan ombak dan angin sebagai tembok penghalang, bermandikan karang nestapa. Betapa kerasnya jurang jarak pemisah diantara kita yang dalam dan sunyi. Semua itu tidaklah akan menjadikan aku berpaling darimu. Aku akan tetap berada ditempatku berdiri ini. Terdiam dan memahami rasa yang kau rasa. Terus memikirkan apa yang kau pikirkan. Aku hanya ingin memberikan yang terbaik yang aku punya, walaupun aku hanya mempunyai nafas yang kotor ini. Dengan lirih merintih hamba kembali bersujud memohon.
Ya Allah, jika engkau takdirkan hamba bersama dengannya, maka pertemukanlah kami kembali kelak dan hamba mohon untuk Engkau selalu menjaganya, karena tiada daya selain Engkau Dzat Yang Maha Perkasa. Namun, jika ia bukanlah pendamping hidup hamba, maka kuatkanlah hati ini. Sudah terlalu banyak hamba melupakan cinta sejati-Mu yang Engkau berikan ini tanpa kusadari. Ya Allah, jadikanlah kecintaan hamba kepada Bani Hawa, bisa menjadikan hamba lebih mendekatkan diri kepada-Mu. Hamba hanya ingin cinta ini bisa lebih dapat mencintai-Mu. Tiada cinta lagi yang patut dicintai selain cinta-Mu wahai Dzat Yang Maha Penyayang.